Pieroot Family Manors

Where we hold together..
 
HomeCalendarFAQSearchMemberlistUsergroupsRegisterLog in

Share | 
 

 ROLE-PLAY (THE STORIES)

View previous topic View next topic Go down 
AuthorMessage
Civet Leonhard
Admin


Posts : 43
Join date : 2010-10-09
Location : in front of my notebook

PostSubject: ROLE-PLAY (THE STORIES)   Wed Oct 13, 2010 10:20 pm

Masukkin ceritanya disini!
Ok!
Jadi, kalau mau nambah cara/ ngobrol free, pake thread satunya, ini khusus ntuk CERITA

Pay 1 : Started,,,

ANGELICA P.O.V

Hai semuanya ! Perkenalkan namaku Angelica Roseeine. Usiaku 16 tahun, aku tinggal di desa Fattland yang ada di kota Lendroath. Sekarang ini aku sedang bermain dengan anjing kesayanganku. Perkenalkan namanya Tephy . Tephy, anjing kecil dengan bulu cokelat muda yang memperindah tubuh kecilnya.

''Angelica ! Cepat sarapan !'' Ku dengar suara kakak memanggilku dari dalam rumah sederhana kami. Yup, aku mempunyai seorang kakak laki-laki yang sangat pintar memasak. Tentu saja ! Ia kan Koki hebat ! Beruntung aku punya kakak seperti dia.

''Baik kak Raymond,'' Kataku menghadap kerumah lalu mengalihkan perhatian ku pada Tephy.

''Tephy ! Ayo kita masuk, kita sarapannn !!'' Kata ku bersemangat pada Tephy.

''Guk guk !'' Tephy berseru dan segera mengikutiku masuk ke dalam rumah.

END OF ANGELICA P.O.V

''Nah, ini sarapanmu Angel,'' Kata laki-laki yang di ketahui bernama Raymond tadi sambil meletakkan sebuah piring yang di atasnya terdapat sepotong roti isi ukuran besar dengan irisan daging, keju, sayur, bawang bombay, acar dan tomat, tidak lupa mayonais (nggak tau tulisannya) dan sambal tomat di paling atas di bawah roti penutup (?) *ini roti apa burger yak*.

''Dan ini sarapan pagimu Tephy.'' Kata Raymond meletakkan makanan Tephy dalam wadah makanan Tephy.

''Selamat ma-'' Belum sempat Angelica menyentuh sarapannya tersebut, Raymond terlebih dulu menarik piringnya.

''Kok diambil sih Kak !?'' Protes Angelica pada Kakak tercintanya itu.

''Angel, cuci tanganmu dulu ! Kakak tau, kau diluar tadi pasti habis memegang Tephy kan ?!'' Introgasi Raymond pada Angelica.

''Hufft, iya deh...'' Angelica berjalan menuju westafel, menghidupkan keran dan mencuci tangannya.

''Jangan lupa pakai sabun Angel.'' Kata Raymond lagi sambil duduk di kursinya dan bersiap menyantap sarapan yang ia buat tadi.

''Iya iya. Kakak cerewet !'' Kata Angelica lagi sambil menggembungkan pipinya dan berjalan menuju kursinya.

''Nah, sekarang baru kau boleh makan.'' Kata Raymond lagi dan memasukkan roti tersebut kemulutnya lalu menggigit roti tersebut.

10 menit mereka makan sarapan tersebut. Selama makan Angelica terus saja mengoceh apapun yang bisa ia bicarakan, hingga membuat acara sarapan mereka itu menjadi ramai.

''Kakak ! Hari ini kita ke makam ayah dan ibu yuk !'' Ajak Angelica dengan semangat.

''Hm ?? Boleh saja. Sebentar dulu ya, kakak mau membereskan ini dulu, baru kita pergi. Dan daripada bosan menunggu, sebaiknya Angel pergi beli bunga saja. Untuk menghemat waktu.'' Kata Raymond sambil mencuci piring.

''Baiklah ! Aku pergi dulu ya kak'' Kata Angelica bersiap membuka pintu rumahnya.

''Hati-hati Angel !''

''Baik !''.


================

*Kediaman Keluarga Greyhound

"Ibu !! Selamat pagi !!"seru seorang pemuda berambut pirang sambil mengecup pipi ibunya. Wanita paruh baya itupun tersenyum. "Selamat pagi Fred".
"Ibu, selamat pagi"sapa seorang pemuda yg lain. Pemuda berambut coklat itu lalu juga mencium pipi ibunya. "Putra-putra ibu yg manis"ujar wanita itu. "Tapi manisan aku kan, bu. Iyakan Dyl ?"sahut yg berambut pirang-Fred, sambil nyengir. Orang yg ditanya hanya menghela nafas lalu duduk. "Terserah kau saja"ucapnya pelan. Tak lama, seorang gadis berkuncir kuda menghampiri mereka dengan riang.
"Selamat pagi ibu, kak Dylan, dan kak Fred !!"

Gadis itu lalu menyalami ibunya seperti kedua kakaknya, dan kemudian duduk rapi. Para pelayan mulai masuk satu persatu, membawa berbagai hidangan sarapan mereka. Mulai dari sepiring pancake, telur rebus, susu, dan berbagai makanan lainnya *udah deh, yg bikinnya ngiler :Q*

Mereka lalu sarapan dengan tertib dan tenang. Hingga Dylan memecahkan keheningan itu. "Ibu, ibu jadi, pergi ke makam ayah hari ini ?"
Wanita berambut pirang tadi mengangguk. Ia lalu menenguk segelas air putih.
"Iya. Memangnya kenapa Dylan ? Kau ingin ikut ?"

"Eh, tidak bu. Hari ini aku ada ujian, jadi kurasa aku tidak bisa ikut.."
===================================



*RUANG MAKAN KELUARGA PHULLMAN

Suasana terasa hening, hampa dan kusam di ruangan mewah dan besar itu. Makanan lezat berjejer rapi di sebuah meja besar bertaplakkan sulaman indah yg di kelilingi banyak kursi antik. Tapi, di ruangan seluas itu, hanya ada 2 orang yg duduk rapi, menikmati sarapan mereka yg terasa hambar.
"Bagaimana sarapannya ? Lezat tidak ?"tanya seorang lelaki yg duduk di kursi paling ujung, pada seorang gadis kecil yg duduk di sisinya.
"Enak kak.."sahut gadis itu lagi sambil menyunggingkan sebuah senyuman. Lelaki itu juga tersenyum, ia lalu membelai pelan helaian rambut gadis itu, yg merupakan adiknya sendiri.
"Syukurlah kau menyukainya. Setelah ini, jangan lupa minum obat yah"

Gadis tadi-, yang bernama Annabeth itu kembali tersenyum sambil mengangguk. "Kak Will juga jaga kesehatan yah (?)".

Will mengangguk pelan sambil menghabiskan sisa sarapannya. Dengan senyuman yg masih atau selalu menghiasi wajahnya. Senyuman yg-entah kenapa, terkesan palsu dan hampa.

=============================

''Selamat pagi Nyonya Renatta !'' Sapa Angelica saat memasuki sebuah toko bunga yang bernama ''Renatta's Flower'' yang terletak tak jauh dari rumah Angelica.

''Oh, selamat pagi juga Angel. Ada yang bisa ku bantu ?'' Tanya Nyonya Renatta yang saat itu sedang menata bunga mawar putih di tempatnya.

''Ehehehe, aku mau beli bunga lili putih !'' Kata Angel bersemangat sambil menunjuk lili putih yang ada di dalam potnya.

''Kau mau kemakam ya ?'' Tanya Nyonya Renatta berjalan menuju bunga yang di maksud oleh Angelica dan mengambilnya.

''Oh iya, mau berapa tangkai ?'' Tanya Nyonya Renatta lagi.

''Euhm, 4 tangkai !!'' Kata Angelica lagi sambil mengacungkan 4 jarinya kedepan.

''Oh, ahahahaha baiklah. Ini.'' Kata Nyonya Renatta dan menyerahkan lili tersebut.

''Berapa semuanya Nyonya ? Dan aku kan mintanya 4 tangkai lili putih, kenapa ada setangkai mawar merah muda ?'' Tanya Angel yang heran dengan satu mawar merah muda di tangannya.

''Itu bonus untuk anak cantik,'' Kata Nyonya Renatta mengelus kepala Angel,

''Dan kau tidak perlu membayar harga bunganya, ambil saja.'' Kata Nyonya Renatta lagi sambil tersenyum.

''Wahh, terima kasih Nyonya Renatta !!'' Kata Angel sambil memeluk wanita paruh baya tersebut.

''Iya, sama-sama. Sampaikan salamku pada ayah dan ibumu ya.''

''Baik. Aku pulang dulu ! Kak Raymond pasti sudah menungguku !'' Kata Angelica melambaikan tangan putihnya.
...
...
...

''Kakak ! Aku pulang !'' Kata Angelica riang sambil membuka pintu rumahnya.

''Oh, sudah pulang ? Ya sudah ayo kita pergi kemakam !'' Kata Raymond memakai jaketnya dan mengunci pintu rumahnya, setelah ia dan Angelica keluar tentunya.

Mereka berdua pun berjalan beriringan menuju kemakam ayah dan ibu mereka. Seperti biasa Angel tidak henti-hentinya mengoceh ini itu, yang hanya di balas senyum oleh Raymond. Karna melihat tingkah adiknya tersebut.

Jika di perhatikan dengan baik, wajah Raymond hari ini agak memucat. Tidak seperti biasanya, namun bibirnya yang biasanya agak kemerahan, sekarang menjadi agak putih. Angelica tak menyadari hal itu, karna setiap matanya menatap kakaknya, kakaknya itu selalu tersenyum hingga menyamarkan wajahnya yang pucat.

Beberapa menit kemudian mereka akhirnya sampai di pemakaman tempat ayah dan ibu mereka di makamkan.
...
...
...

''Ayah, Ibu !! Aku dan Kak Raymond datang. Ini kami bawakan bunga lili putih.'' Kata Angelica meletakkan bunga tersebut di makam kedua orangtuanya.

''Nah, Angel ayo kita berdo'a.'' Kata Raymond sambil berlutut di depan kedua makam tersebut dan menyatukan kedua tangannya di depan dada, lalu mulai berdo'a. Angelica mengikuti kakaknya.

ZRASSHHHHHH

Tiba-tiba turun hujan yang sangat lebat. Hal itu menyebabkan Angelica dan Raymond menjadi kebasahan. Angelica panik sendiri karena hujan mengguyur tubuhnya. Kepanikkan nya itu bertambah saat merasakan sesuatu yang jatuh di bahunya.

Dan saat ia berbalik untuk melihat sesuatu tersebut, lantas ia berteriak...

''KAK RAYMOND !!''

=========================


"Yaaaahh... Hujaaaan !! Oh no !! Ketampananku bisa luntur !!"pekik Fred dengan hebohnya di antara guyuran hujan. Ia buru-buru menepi, berlindung di bawah sebuah pohon yg cukup rimbun. Cukup rimbun untuk melindunginya dari tetesan air, tapi tidak cukup rimbun untuk melindunginya dari petir yg menyambar-nyambar.
"Kakak, tolong jangan bertingkah bodoh di tempat umum seperti ini.."tegur seorang gadis berkuncir kuda,- adik kembarnya, Keyra. Well, sebenarnya Dylan, Fred, dan Keyra adalah kembar tiga. Namun entah kenapa, Keyra hobi sekali memanggil kedua saudaranya itu dengan sebutan ‘kakak’. “Ekh ? Aku tidak bertingkah bodoh ! Aku sedang berteduh !”sangkal Fred dengan tangan yg di kibaskan. Entah apa maksudnya. “Iya, berteduh di bawah pohon, sementara kita memiliki kereta kuda !! Kenapa kakak tidak naik saja sih ?!”omel Keyra. Fred nyengir. “Aku Cuma mau coba, bagaimana rasanya berteduh di bawah pohon “,”Konyol !!”Keyra mendengus. Fred lalu masuk ke dalam kereta kuda yg cukup mewah itu sambil mengacak-ngacak rambut pirangnya, mencoba menyingkirkan butiran hujan. “Huh, kenapa sih ? Setiap kali kita ke pemakaman ayah selalu turun hujan ?”protes Fred lagi. Keyra hanya mendengus kesal. “Hei, kau tidak boleh begitu, Fred. Hujan adalah berkah”sahut ibunya yg sedang membaca buku di kursi di hadapannya. “Iya, iya deh.. Hoaaah.. Entah kenapa udara dingin seperti ini membuatku mengantuk”ujar Fred. Tangannya menutup mulutnya yg siap terbuka lebar-lebar untuk menguap. “Kau kan memang selalu mengantuk kak”jawab Keyra.
“Ah, ya. Keyra, Fred, apa kalian tidak apa-apa terlambat seperti ini ?”Tanya ibunya.
Keyra dan Fred menggeleng berbarengan. “Nggak apa bu. Kami kan tidak ada ujian hari ini , seperti Kak Dylan”
Wanita tadi tersenyum. “Baguslah”dan ia kembali menekuni bukunya.
Keyra lalu mengalihkan pandangannya keluar jendela. Kereta kuda itu berjalan lambat, takut tergelincir di tanah yg basah. Hingga mata coklatnya menangkap sosok seseorang yg sepertinya ia kenal. “Ibu, itu bukannya, um- Ms. Roseinne ? Bila aku tidak salah mengeja namanya”. Fred ikut-ikutan menengok. “Astaga ! Itu kan Angelica ! Ibu, kita harus menghampirinya ! Sepertinya ia sedang kesulitan !”


==============================


KEDIAMAN KELUARGA PORTMAN


"Tuan muda!" tegur pembantu laki-laki mengejar tuannya di pekarangan.
"Hm? Ada apa, Dugh?" tanya tuannya seraya berbalik melihat pembantunya itu.
"Tuan besar memanggil tuan muda, untuk menanyakan ke2 kalinya apakah tuan muda yakin..."
"Ya, saya yakin. Saya sudah lama ingin berkelana dan melihat semua hal yang dulu sering ibunda saya ceritakan," jawab tuan muda itu.
"Tapi jika tuan muda tidak mendatangi tuan besar, saya khawatir saya akan dimarahi..," keluh Dugh.
"Oh, baiklah. Saya mengerti," kata tuan muda itu. Dia lalu berjalan memasuki kembali rumah besar dan megah itu sambil diikuti oleh Dugh.
Belum sampai menaiki tangga ke lantai 2, tuan besar Danny telah meliriknya dari beranda lantai atas. "Luke, apa kau serius?"
"Ya, Luke serius. Ayahanda tidak perlu khawatir," jawab tuan muda itu, alias Luke.
"Baiklah, tapi ayahanda khawatir kau tidak terbiasa dengan dunia luar. Ibundamu dulu adalah seorang yang sudah berpengalaman dengan dunia luar. Berbeda denganmu yang terbiasa di dalam rumah," kata Danny.
"Maka dari itu Luke ingin mencobanya. Luke dulu sering mendegar cerita ibunda tentang keadaan diluar sana. Luke ingin sekali merasakan cerita yang menegangkan dan keindahan alam yag sering ibunda ceritakan," sahut Luke.
"Kalau soal alam, bukan'kan dipekarangan kita ini banyak tanaman?" tanya Danny.
"Benar, tapi tidak selengkap dan seluas diluar, ayah," jawab Luke.
"Hah, benar-benar serius kau, nak?" tanya Danny lagi sambil menuruni tangga dan mendatangi Luke dan Dough.
"Ya, Luke serius," jawab Luke.
"Tapi apa kau bisa jaga diri?" tanya Danny lagi, dengan wajah yag berharap Luke tetap dirumah.
"Luke sudah besar, Yah. Lagipula, kalau Luke tidak bisa jaga diri, apa gunanya latihan pedang yang sering ayahanda ajarkan?" tanya Luke.
"Ya, benar. Ayah lupa bahwa kau sudah besar, nak. Tapi walaupun sudah besar, kau tetap seperti anak laki-laki kecil ayah yang ayah sayangi. Ayah hanya khawatir," jawab Danny sambil menghela nafas.
"Ayahanda tidak perlu khawatir. Percayalah pada Luke bahwa Luke akan kembali lagi nanti, setelah Luke puas memperhatikan dunia di luar rumah. Luke tahu kalau dunia ini luas, jadi Luke hanya akan memperhatikan sekitar kota-kota didekat sini. Luke janji akan mengirim surat sekali seminggu, yah," sahut Luke. Danny lalu memeluk anak laki-laki satu-satunya itu. "Baiklah, berjanjilah kau akan pulang dengan selamat dan selalu mengabari ayah kabar,"
"Baik, yah," sahut Luke sambil melingkarkan tangannya dipunggung ayahnya. Danny melepaska anaknya dari pelukannya, lalu memanggil pembantunya, "Erica, ambilkan pedang rappier yang sudah ditajamkan,". Pembantunya lalu segera datang dan menyerahkan pedang rapier yang mengkilap itu dan juga tempat menggantungkan pedang kepada Danny. "Gunakanlah ini untuk melindungi dirimu, nak. Ini adalah pedang milik ayahanda dulu," kata Danny, lalu menyerahkan pedang itu kepada Luke. "Baik, ayahanda," sahut Luke.
"Ya, ampun. Anak laki-laki kecilku yang sering memanggilku dengan sebutan seorang anak mahkota kepada raja karena cerita2 ibunya, kini telah dewasa," kata Danny sambil menangis.
"Ayahan... Eh, ayah.. Ibunda sering menceritakan dongeng juga waktu kecil, ya.. Luke tidak ingat sama sekali," Luke lalu memasukkan pedang itu ke sebuah sarung dan memasukkannya kedalam mantelnya.
"Sederhana sekali bajumu, nak," kata Danny baru sadar. "Kau betul-betul mendapat sifat rendah hati dari ibundamu,"
"Betulkah sifat Luke seperti Ibunda, yah?" tanya Luke. "Ya," jawab Danny.
"Baiklah, Luke sudah siap. Luke berjanji akan pulang dengan selamat," kata Luke sambil berpaling lalu berjalan keluar rumah lagi. "Jangan lupa suratnya, nak!" sahut Danny. Luke lalu berpaling ke ayahnya dan menjawab, "Pasti, yah!".
Diluar, Luke menaiki kuda yang sudah disiapkan Dugh. "Luke, pergi, yah!"
"Hati-hati, nak!" sahut Danny di ambang pintu rumah. Luke lalu menarik pacuannya dan mengendarai kuda itu sampai keluar dari pagar rumahnya.



URSULA---------------------


Sudah 2 hari kami menginap di penginapan kota Emerald. Sudah 2 hari juga kami mencari informasi tentang keberadaan ibu kami. Tinggal 1 hari lagi, lalu kami akan pergi ke kota sebelah.
"Berikutnya, kota Ruby!" kata Vivienne sambil berlari-lari mengelilingi meja makan. Sepertinya dia ceria sekali. Tapi sebaiknya dia segera berhenti, nanti..
"Jangan ribut, Vi!" tegur Urke, tiba-tiba bangun dari tidurnya.
"Kau dengar, Vi?" tanyaku kepada Vivienne. Dia lalu berhenti berlari. Kapan kita akan pindah kota??" tanya Vivienne, kembali berlari kearahku.
"Besok. Tidak sabar bertemu ibu, ya?" tanyaku balik.
"Iya," jawab Vivienne. Dia lalu duduk dilantai dan sambil berpangku tangan diatas pangkuanku.
"Tidurlah, kau terlihat lelah," kataku. Vivienne lalu tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia memang sudah berumur 14 tahun, tapi masih kekanak-kanakan.
"Apakah ibu akan suka bertemu dengan Vivienne? Bukankah kelahiran Vivienne tidak diharapkan?" tanyanya, senyumnya mulai memudar. Aku tidak suka kalau dia cemberut. Dia anak yang manis, sehingga aku pasti akan ikut sedih jika dia tidak tersenyum.
"Tidak. Ibu akan senang jika bertemu dengnanmu, kok. Ibu'kan sayang dengan anak-anaknya. Kelahiranmu diharapkan, Vi. Jika tidak ada kau, aku dan Urke tidak mungkin lebih gembira dari sekarang. Kau selalu membuat kami bahagia dengan senyumanmu. Nah, senyum dong, nanti kami ikut sedih juga," jawabku meghiburnya. Vivienne kembali tersenyum lagi. Dia lalu berdiri lalu mencium pipiku. dia menatapku sambil tersenyum, "Vivienne sudah gembira sekarang!". Aku membalas senyumannya. "Sekarang tidur, ya? Sudah larut malam,"
"Kakak juga!" katanya. Aku mengangguk, lalu menuntunya ke tempat tidurnya. Kami tidur berdua, sedangkan Urke tidur sendiri di kasurnya. Kami tak lama sudah tidur.


Back to top Go down
View user profile http://monasiakingdom.4umer.com
Civet Leonhard
Admin


Posts : 43
Join date : 2010-10-09
Location : in front of my notebook

PostSubject: Re: ROLE-PLAY (THE STORIES)   Wed Oct 13, 2010 10:52 pm


''Kakak !!! Kakak bangun !!! Kau kenapa ??!!'' Angelica mengguncang tubuh Raymond yang tak berdaya tersebut.

''...'' Tak ada jawaban, barang sekatapun dari bibir pucat Raymond.

''Apa yang harus aku lakukan !!! Kakak !! Hiks, bangun kak, hiks.'' Angelica menangis melihat keadaan sang kakak yang sangat ia sayangi tersebut.

Semua terlalu tiba-tiba. Mulai dari kakaknya, setau Angelica pagi tadi kakaknya baik-baik saja. Tidak menunjukan kalau ia sedang sakit. Lalu cuaca, beberapa menit yang lalu cuaca begitu cerah, dan sekarang ? Hujan turun dengan derasnya.

Angelica masih saja terdiam di depan makam ayah dan ibunya tersebut. Matanya kosong secara tiba-tiba (lagi?). Dia tetap membiarkan hujan mengguyur tubuhnya dan kakaknya.

''Apa aku, memang benar-benar tidak berguna jika tidak ada kakak ? Apa aku selemah itu ?'' Entah bertanya kepada siapa. Dia terus saja menggumam hal yang tidak jelas.

''ANGELICA !!!'' Suatu suara berhasil menyentak Angelica dan membuatnya menoleh kebelakang. Setelah itu ia bisa melihat sebuah kereta kuda yang mewah dan seorang lelaki berambut kuning menghampirinya.

''K..kak F..red ??'' Kata Angelica dengan suaranya yang agak bergetar. Kelihatannya ia menggigil kedinginan.



"Apa yg terjadi ?"tanya Fred pada Angelica yg mulai terisak.

"Ak-aku tidak tahu. Tiba-tiba saja Kak Raymond pingsan"

Fred mengamati Raymond yg terpejam, dengan wajah memucat dan bibir yg mulai membiru. Spontan ia langsung memanggil sais kereta kuda. Sais itu langsung keluar, bersamaan dengan Keyra.
"Ada apa tuan ?","Tolong bantu aku mengangkat pemuda ini ke dalam !! Cepat !!".
Fred dan Sais itu lalu memapah tubuh Raymond ke kereta kuda. "Ms. Roseeine, anda baik-baik saja ? Ayo cepat naik ke kereta "ucap Keyra sambil mengulurkan tangannya pada Angelica. Mereka semua lalu masuk ke dalam kereta kuda itu.
Beruntung,- kereta kuda mereka cukup luas. Sehingga tempat itu masih cukup untuk merebahkan tubuh Raymond di salah satu kursi. Angelica juga duduk di sana. "Oh, Angelica, Raymond"ucap Nyonya Greyhound saat melihat kakak adik itu. "Harold ! Cepat ke dokter tedekat !"seru nyonya berambut pirang itu lagi. Kereta itu lalu bergerak menyusuri jalan menuju klinik Beckrendouf.


KLINIK BECKRENDOUF

"Dokter, apa dia baik-baik saja ?"tanya Angelica pada dokter sepuh itu. "Oh,"Dokter Beckrendouf menoleh. "Dia hanya..."



''Dia hanya...'' Kata-kata dokter tersebut menggantung. Membuat Angelica semakin penasaran dengan kata-kata dokter tersebut.

''Apa ?!'' Kata Angelica yang hampir meneteskan air matanya lagi.

''Hanya penyakit tifus saja. Mungkin ia terlalu banyak beraktifitas dan tidak menjalani istirahat yang cukup.'' Kata dokter tersebut sambil tersenyum simpul pada Angelica.

Angelica menarik nafas lega dan terduduk di lantai ruang dokter tersebut. Keyra yang saat itu di sampingnya mengelus dada lega.

''Oh ! Syukurlah ia baik-baik saja !'' Kata Fred mencoba dramatis yang dibuat-buat hingga membuat ia terlihat lebay. *==*a

''Kakak yang menyedihkan.'' Umpat Keyra sambil mendelik melihat tingkah laku kakaknya yang menurutnya aneh itu.

''Dokter, apa ada obat khusus yang perlu di konsumsi oleh Raymond ?'' Tanya Nyonya Greyhound.

''Ya, tentu saja. Penyakit ini sendiri kalau terus dibiarkan, bisa menjadi penyakit yang mengundang kematian,'' Kata Dokter tersebut yang kini sambil menuliskan resep obat yang harus di tebus.


''Dan ini adalah resep obat untuk Raymond. Anda bisa menebusnya di apotik yang tak jauh dari sini.'' Kata Dokter itu lagi sambil memberikan selembar kertas yang berisikan resep obat Raymond.
Nyonya Greyhound menerima kertas itu. Ia meneliti tiap komposisi, dan nama-nama obat-obatan yg tertera disitu. "Ehm, terima kasih dok. Kami akan segera menebusnya. Jadi, berapa semuanya ?".
===============================

Tak lama, mereka sudah kembali di kereta kuda, dengan pakaian yg lebih nyaman tentunya. Di klinik tadi, sang dokter dengan baik hatinya menggantikan pakaian Raymond. Sementara Angelica, di belikan sebuah pakaian oleh nyonya Greyhound. "Nanti kau bisa sakit juga sayang"ucap nyonya Greyhound saat gadis itu menolak pemberiannya. Begitu juga dg Keyra dan Fred, yg memutuskan untuk membolos saja hari ini, dan mengganti pakaian mereka dengan baju baru.
Hujan sudah mulai reda. Walaupun masih ada rintik hujan kecil-kecil. "Angelica, sekarang kami akan mengantarkan kalian berdua pulang, sayang. Soal obat, Harold akan mengurusnya"terang wanita yg masih terlihat cantik di usia yg sudah mencapai 40 lebih itu.

''Euhm, terima kasih banyak Nyonya Greyhound. Kau begitu baik pada kami.'' Kata Angelica. Senyum mengembang kini menghiasi bibir mungilnya.

''Sama-sama sayang.'' Kata Nyonya Greyhound juga ikut tersenyum lagi sambil mengelus rambut Angelica yang masih basah.

Tak lama setelah itu, kereta kuda itupun kini sampai di depan kediaman Angelica dan Raymond. Raymond di bawa ke dalam oleh Fred dan Sius serta Harold.

''Terima kasih sekali lagi atas bantuan kalian.'' Kata Angelica lagi kini keluar dari kereta kuda tersebut sambil menunduk sopan pada mereka.

''Baiklah Angel, kami pulang dulu !!'' Kata Fred sambil melambaikan tangannya dari balik jendela di kereta tersebut.

Angelica mambalas lambaian tangan Fred sesaat dan setelah itu langsung masuk ke dalam rumahnya tersebut.

Walaupun tak terlalu pintar memasak, tetapi Angelica kini sedang memasak bubur di dapur rumahnya. Ditemani anjing kesayangannya yang selalu bisa menghiburnya selain Raymond.

''Ah ! Akhirnya selesai juga !'' Kata Angelica tersenyum puas oleh masakannya yang sederhana tersebut.

''Nah, Tephy ! Ayo kita siapkan bubur ini buat Kakak !''

=========================


"Ah, gadis yg malang.."desah nyonya Greyhound di perjalanan pulang. Keyra mengernyit. "Maksud ibu ? Ms. Roseeine". "Ya, sayang. Kau pikir siapa ?". "Kenapa ibu menganggap seperti itu ? Bukankah ia mempunyai kakak yg menyayangi dan melindunginya selama ini ?". Wanita itu kembali tersenyum. "Kau benar nak. Kenapa ibu melupakan itu yah ?". "Kau juga beruntung Key. Punya kakak se-keren aku. Oh, aku jadi ingin berpuisi.

Keyra beruntung
Hujan reda
Aku keren


Baguskan puisiku ?"Fred tersenyum konyol.
Keyra mendengus. Sedangkan Nyonya Greyhound tertawa kecil. Ia tertawa sambil mengatupkan bibirnya, sehingga tawa itu hanya terdengar seperti helaan.
"Simpan saja puisimu itu. Kalau kau tidak waras, tak usah di pertontonkan padaku. Karena tanpa kau katakan, aku sudah tahu, kakak itu tidak waras"
"Benarkah ?"
Sebelum Keyra sempat menjawab, nyonya Greyhound menengahi. "Sudahlah sayang. Kita sudah sampai, ayo turun"

“Ibu ? Fred ? Keyra ?”seru Dylan panik saat ketiga orang itu memasuki rumah. “Oh, saudaraku. Kau merindukanku . Aku jadi ingin--- “,”Tutup mulutmu, otak udang”seru Keyra cepat sebelum Fred mengatakan puisi anehnya. “Kami dari pemakaman sayang. Bagaimana ujianmu ? Sukses ?”. Dylan mengangguk pelan, dengan masih wajah yg kebingungan. “Kenapa lama sekali, bu ?”. “Tadi hari hujan, dan Angelica. Gadis itu kesusahan. Jadi kami membantunya, sayang.”.
Untuk sesaat Dylan mematung. Hingga ia berujar panik. “Angelica ? Ada apa dengannya ?”. Nyonya Greyhound mengusap pelan pipi putranya itu. "Dia baik-baik saja sekarang, Dylan.. Tak ada yg perlu kau khawatirkan"
Back to top Go down
View user profile http://monasiakingdom.4umer.com
Civet Leonhard
Admin


Posts : 43
Join date : 2010-10-09
Location : in front of my notebook

PostSubject: Re: ROLE-PLAY (THE STORIES)   Wed Oct 13, 2010 11:00 pm

"Well, Mr.Phullman, kau ingin ambil peluang itu, atau tidak ?"tawar seorang bapak-bapak berkumis pilin pada seorang pemuda di hadapannya. Pemuda itu,- Will, terlihat berfikir keras. Hingga akhirnya ia berucap. "Oke. Saya mengambilnya". Bapak-bapak itu tersenyum. "Baiklah Mr.Phullman. Saya yakin kan, anda tidak akan kecewa."
"Well, saya harap memang begitu, Mr.Brook. Maaf Mr.Brook, tapi saya rasa, saya harus pergi sekarang. Permisi"

Will terduduk di kereta kudanya dengan bertopang dagu. Mata nya melihat ke luar jendela, yg menyuguhkan pemandangan indah. Namun, hanya ada kekosongan di kedua bola mata itu. Hingga tiba-tiba Will terhentak dari lamunannya karena getaran keras. "Ada apa pak ?"tanyanya pada sang kusir. "Saya rasa, kita menabrak seseorang, tuan..". Will langsung turun dari kereta kudanya dan berjalan ke depan. Benar saja, ia menabrak seseorang. Atau lebih tepatnya, seorang gadis. Bajunya kotor, begitu juga dengan wajahnya. Kakinya penuh goresan. Ia duduk terhenyak di jalan. Seperti patung, yg sudah ratusan tahun berada disitu.
"Lady, anda baik-baik saja ?"tanya Will.
Perempuan itu masih diam.
"Lady ?"ulang Will.
Akhirnya ia merespon.
"Ah, eh, yah, um.."
Will tercengang. Ada yg salah dengan wanita muda itu. "Lady ? Apakah anda baik-baik saja ?"
"Eh- err.. Kurasa begitu"sahut nya lagi.
Will mengamati gadis itu. Rambut pirang panjangnya nampak kusut, dengan banyaknya duri pinus dan dedaunan kering menempel disana. Wajahnya kusam, penuh debu. Dan lengan bajunya koyak.
"Well, lady, saya rasa anda tidak baik-baik saja".



''Bagaimana ? Apa kakak sudah merasa baikan ?'' Tanya Angelica pada Raymond yang kini setengah duduk di tempat tidurnya. Ia baru saja selesai memakan suapan terakhir dari bubur yang di masakkan Angelica tadi.

''Kau tak perlu khawatir, Angel.'' Kata Raymond sambil tersenyum. Ia mencoba menghilangkan kekhawatiran di wajah adiknya itu.

''Syukurlah kalau begitu. Dan ini obat yang harus kakak minum.'' Angelica menunjukkan obat yang nampaknya besar-besar kepada Raymond.

''Apa aku harus meminum itu ?'' Tanya Raymond dengan alisnya yang terangkat sebelah.

''Ya tentu saja ! Pokoknya apapun yang terjadi kakak harus meminum obat ini !!'' Jawab Angelica sambil berdiri dan berkacak pinggang di hadapan kakaknya.

''Ahahaha, baiklah adik kecilku.'' Kata Raymond seraya tertawa renyah.

Angelica menggembungkan pipinya, ''Aku bukan anak kecil lagi, Kakak !! Aku sudah 16 tahun !!'' Protesnya pada Raymond dan hal itu membuat Raymond kembali tertawa.
...
...
...

''Eh, Tuan Vincent anda mau kemana ?'' Tanya seorang lelaki tua dengan pakaiannya yang rapi. Nampaknya ia adalah pelayan pribadi dari orang yang bernama Vincent tadi.

''Hanya sedikit jalan-jalan.'' Jawab Vincent menuju ke halaman belakang rumahnya yang 'wah' itu.

''Saya baru saja mendapatkan berita tentang 'dia' Tuan.'' Kata lelaki tua tersebut yang berhasil membuat Vincent berbalik dan menatap pria tua itu dengan tatapan penasaran.

''Apa itu ?''


"Ssstt !! Dylan !"bisik Fred pada Dylan yg sedang asyik membaca buku. Dylan menoleh. "Ada apa, Fred ?","Apakah tadi si tua Chiron itu membicarakan sesuatu tentang kau-tahu-siapa ?".
Dylan menghela nafas panjang. "Jangan panggil Mr.Chiron si tua, Fred. Dan lagi, memangnya kenapa ?". Fred melengos dan duduk di samping Dylan. "Ya ampun, dude, kau itu nggak tahu berita yah ?","Maaf-tapi berita apa memangnya ?". Fred memutar bola matanya dengan bosan. "Oh, ya ampun. Tentang kebangkita 'hal-itu'". Dalam seketika Dylan merasa suhu tubuhnya turun drastis. "Maksudmu ? Kau-tidak serius kan ? Bukannya 'hal itu' sudah beribu tahun yg lalu di musnahkan ?"
"Dylan, kau tahu kan, kekuatan sebesar dan sedahsyat itu tidak akan bisa di lenyapkan dengan mudah. Jadi, walaupun 'hal itu' sudah musnahkan, kekuatannya masin mengitari dan mencari-pemilik yg tepat, untuk kebangkitannya"
"Kau-Fred, tahu darimana sih ? Hal itu tidak mungkin. Kalau hal itu memang terjadi, kenapa mereka tidak mengumumkannya pada para murid ?"
"Dan membuat para murid itu kabur dan ketakutan ? Kemarin, aku lewat di depan kantor guru. Dan ternyata di sana ada Mrs.Selene dan Mr.Draywouf, mereka kelihatan panik. Dan karena pintunya tidak rapat...."
"Kau menguping ?"
"Eh-em, enggak. Cuma mendengar tanpa izin. Oke, jadi disitu mereka menyebut tentang 'hal itu'. Dan itu di peringatkan oleh kementrian sihir langsung"
"Jadi itu sebabnya ? Mereka melatih para swordsmen lebih keras dan sering akhir-akhir ini ?"
"Iyap ! Karena mereka barisan depan."
"Tapi, kenapa warga kota bahkan, terlihat biasa-biasa saja ?"
"Karena belum saatnya untuk panik.."


KERAJAAN TRISTAN

Ruang ksatria--
"Hah, tugas apa lagi?" tanya David kepada Jack, jendral kerajaan Tristan.
"'Hah' katamu? Kau tidak senang jadi utusan raja, ya?" tanya Jack balik.
"Ah, aku'kan mau santai!" jawab David sambil bersandar dikursinya.
"Bawel benar kau, David! Heran aku kau dapat sifat ini dari mana!"
"Ya, dari aku!" sahut David tertawa.
"Heh, sudah. Kau nggak akan bisa mengelak. Kerjakan pekerjaan ini dan segera pergi ke kota Ruby untuk mengantarkan barang pesanan dari pedangang disana," kata Jack.
"Sebentar? Apa aku tidak salah dengar? Kota Ruby itu masuk dalam wilayah kerajaan Sheena?" tanya David.
"Iya. Kau nggak memusuhi kerajaan itu'kan? Lagipula kerajaan ini sudah berdamai dengan kerajaan itu," jawab Jack.
"Tapi ayah tidak suka kerajaan itu! Kalau ayah tidak suka, kau juga!" kata David ketus.
"Kekanakan kau! Antarkan saja, ini juga barang milik pedagang dari kota Tristan kok. Hanya saja dia dagangnya di kota Ruby," kata Jack.
"Kenapa nggak suruh Andreas si pengantar barang? Kok ksatria kayak aku disuruh?" tanya David lagi, dengan mata menyipit kearah Jack.
"Andreas sudah disuruh ke kota lain. Pedagang ini juga maunya orang terpercaya yang mengentarkan,"
"Suruh saja Juliet!!" kata David lagi.
"Apaaa??" tanya Juliet dengan wajah marah mendobrak pintu kantor David secara tiba-tiba.
"He.... JANTUNGAN AKU JIKA DENGAN KALIAN INI!" kata Jack.
"Urus sendiri urusan kakak, pemalas!" katsa Juliet marah-marah.
"Aku nggak malas!" sahut David.
"Sudah, kalian pergi berdua!!" kata Jack.
"Ya sudah, kalau itu memang tugasku," kata Juliet terseyum ramah.
"Hah, emosi adikmu itu bisa berubah begitu, ya?" tanya Jack.
"Nggak kok, dia memang bermuka 2," jawab David.
"Ayo pergi kakak!!" Juliet menarik bandana David.
"ARGHH!!!! IYA! LEPASKAN TANGANMU!!" protes David.
"Hati-hati, ya! Barangnya ada di tempat Sara," kata Jack.


---- KEDIAMAN MATTHEW, BANGSAWAN PORTMAN---

"Dad, Russel mau pergi ke rumah paman Luke, boleh, ya?" tanya Russel kepada Matthew, yang sedang duduk di sofa merah di ruang keluarga.
"Ehm, tanya mommy saja, ya," jawab Matthew.
"Mom!" Russel berlari kecil ke arah pintu aula. Sebelum sempat membuka pintu, Russel terkejut melihat pintu tiba-tiba terbuka dengan cepat. "KLEEEEKK" "BRAK!!"
"Ya, Russel!" tanya ny. Matthew, memasuki ruangan.
"Mom..." jawab Russel.
"Anakmu dibalik pintu, sayangku," sahut Matthew.
"Apaa???" tanya ny. Matthew terkejut. Segera ditutupnya pintu dan melihat Russel mengelus-elus hidung mancungnya.
"Sakit hidung," kata Russel.
"Maafkan mommy, sweet heart," kata ny. Matthew.
"Tak apa, asalkan mom memperbolehkan Russel kerumah paman Luke," kata Russel.
"Ngapain kamu disana?" tanya ny. Matthew mengerutkan kening.
"Bermain biola disana, paman suka mendegarnya. Lalu mengendarai kuda!" kata Russel.
"Baiklah, tapi mommy mendengar pagi ini pamanmu pergi berkelana atsa kemauannya sendiri," kata ny. Matthew.
"Huh? Kapan pulangnya?" tanya Russel kecewa.
"Oh, ya, aku lupa soal itu," sahut Matthew.
"Katanya akan pulang setelah dia mengabari ingin pulang," jawab ny. Matthew.
"Kemana paman??" tanya Russel, "Russel ingin ikut!!!!"
"Hah?? Tidak boleh!" jawab ny. Matthew terkejut.
"Biarkanlah, dia. Anak kita'kan sudah besar," sahut Matthew sambil membaca surat2 lama yang diambilnya diatas meja didepannya.
"Hah??"
"Ya, mom. Dad benar! Ayolah mom... Siapa tahu nanti bertemu jodoh di tengah jalan...," rayu Russel. Russel tahu persis kalau momnya ingin sekali punya cucu.
"Oh, kau benar! Lalu punya anak, ya!!" kata ny. Matthew girang. "Nah, Russel siap-siap dulu, ya.."
"Eh, nggak, langsung pergi aja!" sambung Russel.
"Harus ada barang2nya dulu, Russel," kata Matthew. Matthew lalu berdiri dari sofa besar itu, lalu berjalan mendekati jendela besar, dimana disebelahnya ada lemari kaca. Dibukanya lemari itu, lalu mengambil pedang rappier didalam sana. Berbeda dengan pedang rappier Luke yang terukir nama 'Danny' di sarungnya, pedang ini terukir nama Matthew.
"Huh? Ini pedang daddy? Rasanya kakek Danny juga punya, kenapa paman Luke dan Russel nggak?" tanya Russel.
"Pedang ini hanya dibuat jika kalian sudah menikah," jawab Matthew.
"Oh...," sahut Russel.
"Gunakanlah ini untuk melindungimu," kata Matthew. "Dan juga kudamu,"
"Russel bawa kuda?" tanya Russel girang.


----KOTA EMERALD-------
Di kamar, Ursula mengepak baju-bajunya. "Ayo Urke, kita pergi,"
"Bentar, uang kita tinggal berapa?" tanya Urke. Dia masih duduk diranjang
"200 silver, kenapa?" tanya Vivienne.
"Harga menginap perorang di kota Ruby kuperkirakan 150 silver perorang," jawab Urke.
"Darimana kau pikirkan hal itu?" tanya Ursula.
"Di kota Sheena, harganya 1 gold'kan? 1 gold sama dengan 1000 silver. Mahal karena itu kota besar. Tapi karena pemilik penginapan tahu kita orang sana, jadi dapat kemudahan menjadi 50 gold. Ketika di kota Zera, kota kecil yang dekat kota besar harganya 900, 300 perorang. Kalau di kota sini 250 gold perorang jadinya maka semalam kita bayar 300'kan? Kira-kira kalau dikota berikutnya 200 perorang," kata Urke.
"Maksud kak Urke, tiap pemilik penginapan tahu kita bukan orang penduduk sekitar?" tanya Vivienne.
"Mereka tahu kita bukan penduduk sekitar, karena tidka pernah melihat kita. Kota kecil, tentu penduduknya memang banyak daripada desa umumnya. Tapi jika kota besar, lebih banyak lagi penduduknya dari kota kecil," sahut Urke.
"Paling sedikit penduduk kota kecil itu, 20 rumah," kata Ursula
"Heh? Vivienne kira itu desa! Tapi kalau sebanyak itu, ada kemungkinan nggak ingat juga penduduk sekitarkan?" tanya Vivienne.
"Nggak, entah kenapa mereka seperti kenal kalau kita dari kota Sheena," kata Urke.
"Ya, sudah. Kita pikirkan nanti saja. Nanti kita diusir pemilik penginapan klau tidak cepat. Nanti di kota Ruby, aku akan menjual ramuan penyembuh," kata Ursula.
"Memang kak Ursula bisa?" tanya Vivienne.
"Kucoba saja, kan aku membawa buku ramuan ibu," jawab Ursula.
"Kalau kau salah ramu, jadi penyakit orang tambah parah gimana?" tanya Urke mengerutkan keningnya.
"Baiklah, nanti aku akan cari kerja sambilan. Ayo kita keluar dari sini," jawab Ursula



''Angel, ini sudah jam berapa ?'' Tanya Raymond yang daritadi hanya berbaring di tempat tidurnya tanpa melakukan apapun.

''Euhm, sebentar. Oh ! Ini sudah jam 11.'' Kata Angelica sambil mencuci piring bekas bubur Raymond tadi.

''Apa !? Kau tidak bercanda kan Angel ?!'' Pekik Raymond terkejut atas jawaban adiknya itu dan segera duduk di tempat tidurnya.

''Eh ? Aku tidak bercanda kok !! Angel kan anak baik kakak !!'' Kata Angelica menggembungkan pipinya.

''Bukannya begitu Angel. Aku sudah terlambat untuk bekerja sekarang !!'' Kata Raymond lagi sambil menyibakan selimutnya dan berdiri. Namun karena sesuatu ia kembali terduduk di tempat tidurnya.

''Siapa bilang kak Raymond terlambat, kak Raymond hari ini harus istirahat !! Tidak boleh bekerja !!'' Kata Angelica sambil menggoyangkan telunjuknya di depan wajah Raymond.

''Kalau aku tidak bekerja, gaji ku akan di potong Angel.''

''Tapi kan kak Raymond sedang sakit !? Pokoknya kakak tidak boleh bekerja !!'' Kata Angelica kali ini sambil memanyunkan bibirnya. (Angelica kok kayak anak2 bgt ya ? *==*''a)

''Lalu bagaimana ? Aku belum meminta izin pada Tuan Christian !''

''Masalah itu rupanya ? Kak Raymond tenang saja ! Biar aku yang meminta izin !'' Kata Angelica sambil tersenyum penuh kemenangan.

''Ya sudahlah... Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagikan untuk sekarang.'' Kata Raymond memejamkan matanya dan memijit keningnya yang mungkin terasa pening.

''Nah kalau begitu aku pergi dulu ya Kak ! Dan Tephy, jaga kak Raymond di rumah ya !!''

''Guk guk.'' Tephy berbicara dengan bahasa anjingnya yang hanya di mengerti sesama anjing. Tapi menurut Angelica itu berarti Tephy setuju dengan perintahnya.

''Hati-hati, Angel !''
...
...
...

''Hm, jadi begitu rupanya. Baiklah, terima kasih atas info nya Pak Zeff.'' Kata Vincent berdiri dari kursi yang beberapa menit lalu ia duduki.

''Tidak masalah Tuan Vincent.'' Kata pria tua bernama Zeff tersebut.

''Hahhh, tidak ku sangka akan begini jadinya. Ya sudahlah, apa boleh buat. Sudah terjadi sih...'' Kata Vincent yang berjalan dengan tegap di lorong rumahnya tersebut.

''Tapi... Ku kira masih ada waktu. Ternyata, lebih cepat dari yang diperkirakan.'' Gumam Vincent lagi sambil mengacak rambut belakangnya.

''Vincent ! Kenapa terlihat berantakan begitu ?'' Tanya seorang wanita paruh baya, yang berhasil menyentak Vincent dan membuat Vincent berbalik ke belakang.

''Ibu ? Ah ! Tidak kenapa-napa tadi belakang kepalaku sedikit gatal.'' Kata Vincent membuat alasan untuk meyakinkan wanita yang ia sebut Ibu tersebut.

''Kenapa bisa gatal, hm ? Jangan bilang kalau di rambutmu itu ada kutu atau sejenisnya.'' Kata wanita tadi sambil menyilangkan tangan di depan dadanya.

''A ?? Itu... Bukan kutu kok. Hanya mungkin sedang ingin gatal saja. Ehehehe dan kurasa aku harus pergi, aku ada jadwal latihan berkuda setelah ini. Jadi sampai bertemu lagi Ibu !!'' Kata Vincent yang segera berlari dari wanita tersebut.

''Vincent !!! Ibu belum selesai bicara !!!'' Kata wanita tersebut menaikan volume suaranya.
...
...
...

''Hahh, syukur aku bisa kabur,'' Gumam Vincent seraya menghembuskan nafasnya.

''Kenapa sih, baru rambutku berantakan sedikit saja Ibu sudah protes seperti itu. Bagaimana jika aku memberantakan rumah ini ?'' Kata Vincent lagi menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

''Ya sudahlah...''


----LUKE DANNY PORTMAN----------------------


Luke menghentikan kudanya di dekat sebuah sungai. "Jernih sekali air ini, mungkin aku harus beristirahat disini," pikir Luke. Luke turun dari kudanya, lalu menuntun kudanya dengan menarik talinya sampai ke dekat sungai itu. Kuda itu lalu meminum air dari sungai itu.
"Dirumah cuma ada danau, ya'kan?" tanya Luke kepada kudanya itu.
"Hal terbodoh bagiku adalah berbicara dengan kuda," sambung Luke.
Kuda tersebut mendengkir, sepertinya mengiyakan kata2 Luke.
"Haha, minum saja sana," kata Luke, sambil memusut-musut kudanya itu.
"Aku lebih baik mencari buruan, lalu membakarnya," kata Luke lagi, lalu berjalan menjauhi kudanya yang sedang minum. Dia berjalan jauh sekali dari kudanya itu, melewati rimbunan pohon.
"Ku harap aku tidak tersesat," pikir Luke, sambil menatap kebelakangnya, tempat dimana ia meletakkan kudanya tadi. Tiba2, dia melihat seekor serigala keluar dari semak2.
"Hah?" Luke terkejut lalu mengeluarkan rapier dari sarungnya. Serigala itu menyerangnya, tapi ketika dia mau menyernag balik, ternyata ada yang menyerangnya dari belakang. Ternyata serigala itu membawa kawanannya! Luke digigit dilengan, sementara serigala yang mau menyerangnya tadi mencakar punggungnya. Seekor serigala datang lagi, dan mau menerjangnya, tapi tidak jadi karena dikejutkan oleh seekor kuda yang melesat dengan cepat. Kuda itu merengek ditengah2 para serigala itu, mencoba melindungi tuannya.
"Anak baik...," rintih Luke, sambil menahan sakitnya lalu menaiki kudanya. Kuda itu lalu berlari dengan cepat, sementara serigala2 itu mengejarnya. Terkadang, seekor serigala hampir berhasil menyusulnya, tapi Luke segera melempar koin emas ke serigala itu, tepat ke matanya.
Tidak lama, kuda itu berhasil lari dari gerombolan serigala2 itu. Walaupun berhasil selamat, tapi mereka tersesat diantara pepohonan yang rimbun.
"Terima kasih..," kata Luke, berbisik kepada kudanya. Dia lalu memusut2 kepala kudanya. "Kau mirip kudaku dulu.... Dari sifat sampai ciri2mu.. Kuda pertama yang kukendarai, dia begitu mengerti keadaanku. Tapi dia mati 5 tahun yang lalu, karena penyakit," bisik Luke lagi. Kuda Luke itu lalu menggeram, menandakan seolah kalau ia mengerti. "Hehe... Kuberi nama... Namamu... Jupiter... Karena kecepatanmu lari dari serigala2 itu..," kata Luke. Kuda itu lalu mengeram lagi dan memukul-mukulkan ke2 kaki depannya. "Kau marah atau senang..?" tanya Luke. Luke bahagia karena mendapat kuda yang mirip kuda kesayangannya dulu. Tapi senyum diwajahnya hilang ketika dia merasakan kembali sakit dari lengan dan punggungnya. Darah yang keluar dari lengannya bertambah banyak. Lukanya seperti cabikan celurit besar sepanjang lengannya, pasti serigala tadi sangat kelaparan sehingga begitu ganas. Luke juga hanya bisa merasakan sakit dari lukanya yang ada dipunggungnya. Dia tidak bisa melihat lukanya, tapi lukanya sakit seperti pisau yang menggores2 punggungnya dengan kuat, sehingga rasa sakit yang dirasakan juga disertai juga rasa terbakar. Luke hanya bisa menggigit bibir bawahnya untuk menguatkan dirinya dari rasa sakit.
"Ayo kita, pergi, Jupiter...," kata Luke. Jupiter lalu berlari dengan kencang. Selama Jupiter berlari, Luke tidak terlalu bisa konsentrasi melihat. Semua benda yang dilihatnya berwarna kuning, sehingga ia tidak terlalu bisa memperhatikan sekelilingnya. Dan setiap kali dia konsentrasi, rasa sakitnya juga semakin parah. Dan rasa sakit yang parah itu kadang membuatnya berpikir kalau dia akan mati.
Disaat2 Luke hampir tidak sadarkan diri, Jupiter membawanya lari kesebuah rumah yang sangat besar dan mewah.


Back to top Go down
View user profile http://monasiakingdom.4umer.com
Civet Leonhard
Admin


Posts : 43
Join date : 2010-10-09
Location : in front of my notebook

PostSubject: Re: ROLE-PLAY (THE STORIES)   Wed Oct 13, 2010 11:02 pm

“Nama kakak siapa ?”tanya Annabeth pada gadis yg duduk di hadapannya. Gadis itu kelihatan linglung. Ya-Itu gadis yg di tabrak Will tadi. Wil muncul dari ambang pintu. “Anne sayang, biarkan saja nona itu istirahat dulu. Nanti saja menanyainya”. Annabeth mengerucutkan bibirnya. “Tapi kak-“. Will mengusap pelan rambut Annabeth, yg membuat Annabeth langsung pergi meninggalkan ruangan itu. “Makasih “ucap sebuah suara tiba-tiba. Will menoleh. Ternyata itu suara gadis itu. “Sama-sama nona. Silahkan beristirahat dulu sekarang. Rileks kan diri anda”. Gadis berambut pirang tadi kembali tersenyum. “Setidaknya izin kan aku memperkenalkan diri. Namaku Clariesse Blytton”,”Saya William Phullman”,”Oke, Mr.Phullman, sekali lagi terima kasih. Besok aku akan pergi darisini..”,”Tak perlu terburu-buru”sahut Will sambil tersenyum, lalu lenyap di balik pintu.

Will sedang meneliti, helaian dokumen-dokumen pentingnya. Hingga tiba-tiba ia mendengar suara ringkikkan. Will tersentak kaget. Ia buru-buru keluar. Seekor kuda, melesat melewati pagar rumahnya, para penjaga tampak ketakutan dan membuka pagar itu. Will masih belum menyadari apa yg terjadi, hingga ia melihat sesosok orang yg tertelungkup di punggung kuda tersebut. “Luke ?”
"Will.....," gumam Luke sambil menengadahkan kepala kearah suara yang dikenalnya. Dia lalu menguatkan diri turun dari kuda, dengan menggenggam lengannya yang terluka. "Hai, Will... Apa kabar, lama tak jumpa," sapanya, sambil tersenyum menutupi rasa sakitnya. Jupiter lalu mendengus.
Will memperhatikan tubuh Luke yg penuh luka. “Oke Luke. Aku baik-baik saja. Tapi kurasa, kau tidak baik-baik saja”. Will lalu menjentikkan jarinya. Dan dalam sekejap muncul beberapa pelayan. “Tolong bawa kuda itu ke istal, dan angkat Luke ke dalam kamar ku, sekarang”ucapnya lagi. Para pelayan itu mengangguk patuh. Sebagian pelayan lalu menarik tali kekang kuda itu, membimbingnya menuju istal. Sedang yg sebagian lagi memapah tubuh Luke. Luke lalu di rebahkan dengan hati-hati di atas kasur. “Em, James”panggil Will pada salah satu pelayan. “Ya, tuan ?”,”Tolong ambilkan pakaian bersih dan kukira, kita perlu memangil dokter juga”



Back to top Go down
View user profile http://monasiakingdom.4umer.com
Civet Leonhard
Admin


Posts : 43
Join date : 2010-10-09
Location : in front of my notebook

PostSubject: Re: ROLE-PLAY (THE STORIES)   Thu Oct 14, 2010 7:55 am

“Jadi, apa yg terjadi denganmu, Luke ?”Tanya Will setelah dokter keluar dari kamar itu.
"Hufh.... Aku diserang serigala disekitar sini tadi. Syukur kudaku, menyelamatkanku. Apa jadinya tadi kalau kudaku tidak datang? Aku pasti dikeroyok sampai mati...," jawab Luke.

"Hey, aku tidak tahu kalau kau tinggal disekitar sini," sambung Luke.



"Ehm ? Aku baru saja menempatinya 3 bulan belakangan. Demi penyembuhan Annabeth."
Luke mengangguk paham. "Oh. Aku mengerti". Will tersenyum, lalu mengacak rambut Luke-seperti ia biasa mengacak rambut adiknya. "Hei ! Hentikan-aku bukan anak kecil !"protes Luke. Will hanya tertawa mendengarnya. "Well, sepupu, kukira kau masih berhutang jawaban padaku"
"Maksudmu ?"alis Luke mengernyit.
"Iya, kenapa kau bisa berada di tengah hutan dan di serang serigala ? Mana paman dan bibi ?"
"Aku sedang berkelana"sahut Luke mantap.
Will melongo. "Berkelana ? Seorang diri ?"
"Memangnya kenapa ?"
"Oh-nggak. Hanya sulit di percaya."
"Hei ! Kau menganggapku remeh yah ?"Luke bangkit dari tempat tidurnya.
"Mungkin. Mau bermain sekarang ? Tapi kurasa kau perlu beristirahat.."
"Tapi kurasa nggak"jawab Luke. Ia lalu tersenyum, dan dengan cepat membuka sarung rapiernya dan menebaskannya ke arah Will.
"Wow. Mendadak sobat"Will lalu mengambil pedang miliknya-Riptide, yg menggantung di dinding. Ia menghunuskan pedang itu dengan cepat. Tapi Luke tak kalah cepat untuk meloncat dan berguling ke samping. Luke lalu kembali menghunus pedangnya ke bagian perut, tapi Will menepisnya dengan pedang, dan membuat sentakan kecil di perut Luke dengan sikunya.


"Wow, kau hebat!" kata Luke, menengahi pertarungan mereka.
"Sudah lama tidak begini," sambung Luke.
"Ya, kau udah menjadi besar, sekarang. Tidak terasa, padahal dulu kau kecil sekali," kata Will.
"Hey, kau seumuran denganku, kakek tua!" sahut Luke.
"Kau kakek tua juga jika aku kakek tua," kata Will.

"He.... Ya, haha..," tawa Luke. "Mana adikmu?" tanyanya

ANGELICA P.O.V

Ya, sekarang aku sedang berjalan menuju tempat dimana kakak bekerja sebagai seorang koki. Tempatnya lumayan jauh sih, tapi tak apa deh. Suasana di desa kini terasa lebih ramai dari biasanya, kira-kira ada apa ya ?

''Aaaaa !!'' Jantungku hampir saja copot. Ada apa ini !? Siapa mereka ? Kenapa mereka dengan seenaknya mengambil dagangan orang lain dan tidak segan-segan memukul siapa saja yang berani menentang mereka.

''CEPAT BERIKAN UANGMU !!!'' Bisa ku lihat mereka atau lebih tepatnya 5 orang lelaki dengan badan mereka yang besar, berotot, dan penuh tato memalak seorang wanita yang menjual dagangannya.

''Tapi tuan...'' Wanita itu mencoba melawan, tapi lelaki tadi seperti akan memukulnya.

''HENTIKAN !!!'' Dan aku berteriak tanpa sadar. Semua mata kini tertuju padaku (*-,-*a, miss univers donk *=,=*), termasuk ke-5 lelaki tersebut.

Bisa di pastikan, aku kini sibuk mengutuki diriku sendiri atas kebodohan yang ku buat. Harusnya aku tidak usah ikut campur ! Aku punya urusan sendiri. Tapi wanita itu...

''Anak kecil seperti kau tidak usah ikut campur !!!'' Kata salah satu dari 5 lelaki tersebut.

'Maunya sih begitu !' kataku dalam hati, tapi sepertinya mulutku sedang tidak ingin di ajak bekerja sama.

''Memang kenapa kalau aku ikut campur ?!''

Tuhan ! Apa yang mulutku katakan ! Baru kali ini rasanya ingin ku lepas mulutku ini. Bayangkan saja ! Aku yang memang memiliki tubuh yang relatif kecil (tidak terlalu kecil) bahkan tidak ada setengah dari badan mereka, dan mereka yang memiliki badan yang super duper 'wow'. Ayolah ! Terlebih lagi mereka berlima !!

Tuhan lindungi aku !!!

END OF ANGELICA P.O.V

Mendengar jawaban seperti itu dari mulut Angelica, lantas membuat ke-5 lelaki tadi tertawa terbahak-bahak.

''Sudah ku bilangkan anak kecil seperti kau itu sebaiknya jangan ikut campur urusan orang dewasa !!'' Kata lelaki yang mempunyai rambut berwarna kecoklatan dan sangat berantakan.

''Apa peduliku ?? Mungkin tanpa badan yang sebesar gajah itu kalian itu bukan apa-apa !!'' Kata Angelica lagi. Semua orang yang ada di sana sangat terkejut akan jawaban dari mulut mungil Angelica.

Bahkan gadis seperti Angelica berani menantang 5 lelaki tadi ? Oh, gadis macam apa dia ? Itulah mungkin yang ada di pikiran kebanyakan orang di sana.

''Kau !!!'' Geram salah satu dari 5 lelaki tadi. Rupanya kata-kata Angelica barusan berhasil membuat para lelaki itu naik pitam. Oh, poor you Angelica *-,-*a

Tanpa aba-aba yang jelas Angelica segera mengambil langkah seribu dari tempat tersebut. Kelima lelaki tadi mengejarnya di belakang. Baru itu pula Angelica menyesal, mengapa ia tak ikut sekolah maraton (?) saja. Dengan begitu tentu salah satu dari kelima lelaki tadi tidak akan berlari sedekat ini dengannya.

Sedikit lagi tangan salah satu dari mereka hampir menyentuh rambut Angelica yang tertiup angin berlawanan arah dengan tujuan larinya. Dan...

Tidak !

Rambut Angelica berhasil mereka tarik, dan itu sukses membuat Angelica mengaduh dan menghentikan langkahnya.

''Sekarang kau tak bisa lari lagi, gadis kecil yang nakal !'' Mereka berlimapun bermaksud memberi pelajaran pada Angelica, jika saja...

''Payah, masa hanya berani melawan anak kecil.'' Kata satu suara yang berhasil mengejutkan mereka berenam (termasuk Angelica).

Dan ya, mereka berenam pun melihat ke atas atap dari rumah penduduk yang berada tak jauh dari mereka. Di sana, mereka menemukan seorang -nampaknya lelaki- memakai topeng dan baju serba hitam (anggap seperti baju zorro tapi tanpa topi dan tidak mengekspos bagian dadanya *=,=*a).

Mulut lelaki tersebut menyeringai.

“Annabeth ? Kurasa ia ada di kamarnya. Kenapa ? Mau bertemu dengannya ?”sahut Will sambil kembali mengembalikan pedangnya ke tempat semula.

“Kupikir seperti itu. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya”

“Nanti saja, sebaiknya kau beristirahat saja dulu. Kau kehilangan cukup banyak darah.”

“Iya deh”Luke kembali berbaring di kasurnya.

“Ngomong-ngomong, Luke, kenapa kawanan Serigala bisa tiba-tiba berada di hutan ?”

“Maksudmu ?”

“Maksudku, bukannya habitat mereka itu di pegunungan ? Kenapa, mereka mendadak ber imigrasi ?”

“Iya juga yah . Mungkin mereka kehabisan makanan disana. Akibat perburuan illegal !”

Will terdiam. Rupanya ia sedang berpikir.

“Ehm- atau mungkin juga, terjadi sesuatu yg lebih gawat disana. Sesuatu yg membahayakan mereka, dan juga membahayakan kita…


"Hal yg berbahaya bagi kita ? Monster, maksudmu ?"

"Mungkin. Aku nggak tahu pasti"

"Ah-nggak mungkin. Sejak 10 tahun yg lalu, daerah ini sudah bebas monster. Semenjak perperangan itu"

"Kau benar Luke. Mungkin memang cuma perasaanku saja. Well, kurasa aku harus membiarkanmu beristirahat sekarang."

Luke mengangguk, lalu membenamkan wajahnya ke bantal.





Back to top Go down
View user profile http://monasiakingdom.4umer.com
Civet Leonhard
Admin


Posts : 43
Join date : 2010-10-09
Location : in front of my notebook

PostSubject: Re: ROLE-PLAY (THE STORIES)   Thu Oct 14, 2010 8:22 am

"Distorsi waktu, adalah perpindahan dari satu waktu ke waktu lain yg berjauhan secara men-"

Keyra menghentikan aktivitas membaca di tamannya.
Ia lalu menatap langit. Awan hitam kembali berarak di langit. Pertanda hujan akan turun kembali.
Tapi bukan hal itulah yg membuat Keyra menghentikan bacaannya, ia tadi mencium sesuatu, yg berbau seperti rumput basah di tanah yg subur, dan bau semerbak bunga lewat terbawa angin. Mungkin bau itu biasa saja kalau di rumahmu ada padang rumput-tapi, bau itu seperti mengandung suatu kekuatan purba,-kekuatan hebat yg sudah lama hilang, dan menentramkan.
Keyra terdiam. Ia tiba-tiba menelungkupkan wajahnya ke telapak tangannya sendiri. Dan buliran bening mulai meluncur dari ujung matanya.

Ternyata Luke hanya tidur sebentar. Ketika Luke bangun dari tidurnya, Will sudah tidak ada di ruangan itu.
"Kenapa aku jadi bangun, ya?" tanya Luke pada dirinya sendiri (gila)
Lalu dia ingat bahwa dia harus mengirim surat kepada ayahnya. Luke mengambil tas ranselnya disamping tempat tidur, lalu membuka tas itu. dia mengeluarkan selembar kertas, dengan pena bulu dan tinta. "Apa yang kutulis?" pikir Luke.
Untuk ayahanda,
Luke berhasil melewati hutan, dan sampai kerumah Will. Jangan khawatir, Luke selamat dan sampai dengan keadaan baik-baik saja disana.

salam,
Luke

Luke menguatkan dirinya untuk berdiri dari kasurnya dan berjalan mendekati jendela. Dia membuka jendela itu dan mencari-cari kalau ada burung yang beterbangan sekitar sana. Seekor burung pipit bertengger dipohon dekat jendela itu. "Pakai dia saja," pikir Luke, mencoba meraih burung itu. Sebelum burung itu lari, Luke sudah lebih dahulu menangkapnya. Surat itu lalu diikat di kaki burung itu. Tidak lupa Luke memberi burung itu ikatan bandana merah di lehernya. "Buat tanda dariku," pikir Luke. "Lagipula, bandana ini sudah diberi mantra, membuat makhluk yang dililit dengan benda ini akan mengerti maksud dari surat ini,". Burung itu lalu dilepaskan Luke.
"Mungkin sebaiknya aku beli burung terlatih nanti," gumam Luke, sambil berjalan kembali ketempat tidurnya.

------------------RUBY TOWN-------------------

"Nggak tahu aku kalau Julia bakal ikut!!" gerutu David sambil mengendarai kudanya.
"Huh, terserahku," sahut orang yg mengendarai kuda dibelakangnya, alias Julia.
"Kak Julia bukan ksatria lagi'kan? Kenapa ikut?" tanya Juliet.
"Terserahku'kan kataku? Lagipula, kau itu ksatria tapi begitu mencolok dengan 'pegasus'mu itu. Kalau bangsa elf, mungkin normal pakai itu!" jawab Julia.
"Herrr," sahut Perula yang sedang dikendarai Juliet.
"Hah?! Maksud kak Julia Juliet gila??" tanya Juliet terkejut.
"Sudahlah, kita hampir sampai ke tokonya," jawab Julia.
Mereka ber3 lalu turun dari 'kendaraan' mereka masing2. Mereka berhenti didepan toko besar.
"Hem, apa ada orang yang mau menjaga Perula?" tanya Juliet.

Ursula dan saudara2nya baaru saja tiba di Ruby town.
"Aku akan segera mencari pekerjaan," kata Ursula.
"Berarti kita ikut, ya," kata Urke pada Vivenne.
"Ya," sahut Vivienne.
Ursula, Urke dan Vivienne melewati 4 rumah penduduk, restoran, penginapa, dan.... toko senjata dan obat. Mereka berpas2an dengan David, Julia dan Juliet, dan tentunya, Perula.
"Kuda pegasus!" kata Vivienne terkagum2. Kata2 Vivienne membuat Juliet dan saudaranya memperhatikan Ursula dan Urke.
"Hei, kalian!" tegur Juliet kepada Ursula dan Urke.
"Huh?" sahut Ursula.
"Hah?" sahut Urke.
"Apakah kau penduduk sekitar sini? Maukah kau menjagakan kudaku?" tanya Juliet.
"Nanti kami bayar, tolong jagakan kuda kami, ya," kata Julia.
"Ba... Baiklah," jawab Ursula.
"Awas kau macam2 pada kudaku, kubunuh nanti kalian," ancam Juliet.
"Ah, sadis kau! Ayolah cepat masuk," kata David. David, Julia dan JUliet masuk dngn membawa bungkusan barang. sebelum pintu ditutp, Juliet menatap Ursula dg tajam.
"Apa-apaan dia?" tanya Ursula kepada Urke dna Vivienne.
"Padahal banyak orang lalu lalang disini, kenapa kita?" tanya Vivienne.
"Mungkin, karena kita yang mencolok bagi mereka," jawab Urke.


''Ku fikir lawan kalian bukan anak kecil seperti itu.'' Kata lelaki bertopeng tadi masih mempertahankan seringai di bibirnya.

''Kau mau melawan kami, he ?'' Kata salah satu lelaki bertubuh besar yang menarik rambut Angelica tadi.

Lelaki bertopeng tadi melompat turun dari atas atap ke hadapan 5 lelaki bertubuh besar tadi dan Angelica. Lalu lelaki tersebut mendongakkan wajahnya, hingga Angelica bisa melihat warna mata lelaki tersebut. Onyx.

''Nah, aku jawab tantangan kalian.'' Kata lelaki bertopeng tadi yang lagi-lagi masih tetap menyeringai (nggak capek apa nyeringai mulu *=.=*a).

''Sombong juga kau ? Cuih !'' Kata salah satu dari mereka yang berambut merah sambil meludah.
...
...
...

TOK ! TOK ! TOK !

Terdengar suara ketukan pintu, di pintu depan rumah sederhana tersebut.

''Ya, sebentar.'' Sahut suara yang sedikit agak serak.

Kriieetttttt

Pintu pun di buka. Dan di luar terlihat seorang lelaki, berpakaian rapi. Lelaki tersebut memakai baju kemeja berwarna putih yang lalu di lapisi dengan kaos (seperti sweater) tanpa lengan berwarna cokelat dan dasi kecil yang menggantung di lehernya. Rambut nya yang berwarna cokelat tidak terlalu rapi tapi nampak tetap selaras dengan mata onyx nya yang tajam.

''Apa kabar, Raymond ?'' Kata lelaki tersebut.

Sesaat Raymond membelalakkan matanya lalu kembali seperti ekspresi sebelumnya. Datar.

''Hn, biasa saja. Masuklah.'' Kata Raymond sambil membukakan pintu lebih lebar untuk 'tamu istimewa' nya itu.

Lelaki tadi masuk dan duduk setelah di persilahkan oleh Raymond.

''Sendiri ?'' Tanya lelaki itu lagi.

''Kau tidak usah pura-pura begitu, Vincent.'' Kata Raymond to the point. Raymond sepertinya mengerti akan kedatangan Vincent, si bangsawan Rodderman itu.

''Yah, seperti yang mungkin sudah kau ketahui dari awal, Ray.'' Kata Vincent lagi sambil menatap ke sisi rumah Raymond.

''Lupakan saja tentang hal itu.'' Kata Raymond acuh.

''Lupakan ? Seberapa besar keyakinanmu untuk melupakannya bung ?'' Balas Vincent.

''Tidak ku sangka. Padahal itu adalah sebagai suprise dariku. Tidak taunya, kau sudah tau terlebih dulu.'' Lanjut Vincent lagi sambil menunjuk sesuatu yang menggantung di leher Raymond.

''Suprise ? Ini menyebabkan masalah yang baru bodoh !'' Protes Raymond karna kata-kata Vincent yang menyebut sesuatu itu suprise.

''Hm, baiklah. Lalu bagaimana keputusanmu ?'' Tanya Vincent pada Raymond yang kini mengacak rambutnya.

''Tidak tau, kurasa biarkan saja ini semua berjalan sesuai jalannya.'' Kata Raymond terdengar pasrah di antara perkataannya.

''Hei, bung ! Masa kau pasrah begitu saja ? Tidak ada niat untuk memberitau nya ?'' Kata Vincent lagi sambil menepuk pundak Raymond.

''Bukannya begitu. Hanya saja...'' Raymond menghentikan kata-katanya.


Akhirnya, David dan saudara2nya keluar dari rumah itu. Juliet segera berlari dan mendekati Perula dan Ursula.
"Baik, terima kash karena telah menjaganya," kata Juliet, lalu mengeluarkan 5 gold dari kantung uangnya.
"Wah, terlalu banyak," kata Ursula ragu-ragu.
"Tidak apa, anggap 4 gold bayaran untuk menjagakan kuda kesayanganku, 1 gold untuk kedua kuda saudaraku," kata Juliet.
"Ayo Juliet," kata Julia, lalu menaiki kudanya, begitu pula dengan David.
"Siapa namamu?" tanya David kepada Ursula.
"Huh? Kau naksir saudaraku, ya?" tanya Urke balik.
"Aku memang cantik, sih," pikir Ursula narsis.
"Nggak, cuma nanya nama saja!" jawab David mengerutkan keningnya.
"Namaku Ursula. Laki-laki ini kembaranku, Urke. Dan anak perempuan disamping Urke itu adikku, Vivienne," jelas Ursula.
"Senang bertemu kalian," kata David. "Aku David, perempuan berambut hitam itu Julia, dan yang biru itu Juliet. Mereka juga adik-adikku,"
"Kakak memang suka bersosialisasi," kata Juliet.
"Seharusnya kau meniru kakakmu itu," kata Julia.
"Huh!" kata Juliet.
"Sampai jumpa lagi, ya," kata Julia kepada mereka.
"Yeah, sampai jumpa," sahut Urke. David dan adik-adiknya mempercepat jalan kuda mereka. Ketika mereka terlihat hampir sampai ke luar kota, Vivienne berkomentar, "Mereka baik, ya. Tapi belum tahu dalamnya,"
"Iya," kata Urke.
"Kau benar. Nah, ayo ke penginapan. Kita menyewa kamar," kata Ursula.


-----------------KOTA KAYA, ROYAL TOWN----------------------------------

"Kak, kenapa kita bisa sampai berjalan disekitar sini? Bisa-bisa nanti kita iri sama orang-orang kaya," tanya Benneth sambil mengikuti Lark lewat ketengah kota.
"Kita harus lewat sini, Benneth. Untuk pergi ke kota Gold," jawab Lark. "Maaf kakak membuatmu kelelahan berjalan tanpa henti,"
" Tidak apa, kak. Yang penting Benneth bersama kakak," kata Benneth.
"Oh, ya. Yang aku bingungnya, kenapa kau memanggil aku 'kakak', bukannya katamu umur kakak sama dengan Benneth?" tanya Lark.
"Soalnya Benneth tidak tahu umur asli kakak. Bukannya kakak juga tidak ingat umur kakak?" tanya Benneth.
"Iya, kakak lupa masa kecil kakak. Kecuali.. Kakak ingat kalau kakak masuk ke kereta kuda, lalu melihat pembunuhan. Kakak lalu lari dari kereta kuda itu. Apa itu mimpi, ya? Kakak bahkan ingat punya keluarga," jawab Lark.
"Sudahlah, kak. Kita lewat saja," kata Benneth.
"Ada air mancur ditengah kota itu. Mau cuci wajahmu?" tanya Lark.
"Boleh," kata Benneth. Mereka lalu berhenti didekat air mancur dan mencuci wajah mereka yang kusam. Wajah mereka jadi lebih bersih, ada seorang laki2 memakia tuxedo melirik mereka.
"Benneth lebih suka di hutan. Bisa mandi sih disana," kata Benneth.
"Cari pekerjaan saja, ya.. Agar bisa menginap," kata Lark.
"Eh, jangan kak. Simpan saja uangnya untuk membeli makanan," kata Benneth. Seorang lelaki memakai tuxedo itu memndekati mereka.
"Wajah-wajah kalian berubah total jika bersih. Kudengar kalian butuh kerjaan. Mau bekerja di tempatku?"
"Kerjanya apa?" tanya Benneth.
"Kerja yang bagus. Banyak dapat uang. Kalian juga kuberi tempat tinggal," sahutnya lagi. Lark berpikir, lalu bertanya
"Apa yang membuat kami jadi sasaranmu?"
"Yah, sudah kukatakan. Ternyata wajahmu lumayan cukup tampan dan perempuan itu juga lumayan cantik. Kalian bukan suami istri'kan?" tanyanya.
"Bukan, kami saudara," jawab benneth.
"Bagus! Kalian bisa bekerja ditempatku!" kata laki2 itu lagi.
"Jadi maksudmu, jika kami tidak berwajah menarik dan sudah menikah tidak bisa bekerja?" tanya Lark tiba-tiba.
"Ya!..." jawab laki2 itu tiba-tiba juga. "Eh, bukan.. Maksudku..,"
"Lupakan, kami tidak menerimanya!" sahut Lark, menarik Benneth menjauh dari laki2 tuxedo itu.
"Kenapa, kak?" tanya Benneth. "Kita'kan butuh uang?". Lark berhenti berjalan dan menatap Benneth.
"Benneth, seperti tadi. Jika kau diberi orang pekerjaan kau harus hati2. Orang tadi begitu memperhatikan penampilan dan menanyakan kita sudah menikah tidaknya, apa kau tidak berpikir mungkin dia 'penjual orang'?" katanya.
"Iya, ya...," kata Benneth.
"Ya, ampun. Apa gelandangan tidak punya hak untuk dilindungi, ya?" kata Lark sambil mengacak-acak rambutnya.
"Kak, kita pergi sekarang," kata Benneth. Mereka lalu kembali berjalan menuju ke pintu gerbang kanan kota.


-----------------------RUMAH WILL----------------------------------------

"Huh," kata Luke terbangunn dari tidurnya. Dia memperhatikan jam didinding. (istilahnya jam 3-an biggrin.gif)
"Masih belum pagi," kata Luke. Luke merasa lebih baikan daripada sebelumnya.
"Aku mau menghirup udara segar..," kata Luke. Lalu membuka pintu ruangan, lalu menilik keluar.
"Will sudah tidur, nggak ya?" bisiknya.


Back to top Go down
View user profile http://monasiakingdom.4umer.com
Civet Leonhard
Admin


Posts : 43
Join date : 2010-10-09
Location : in front of my notebook

PostSubject: Re: ROLE-PLAY (THE STORIES)   Thu Oct 14, 2010 8:25 am

PHULLMAN’S MANOR
n/b : kayaknya dari sekarang, aku bakal lebih sering memakai point of view orang pertama biggrin.gif
-----------
Aku kembali mencoba menutup kelopak mataku. Kelopak mataku yang terasa berat, dan tidak mau mengatup sejak kemarin malam. Ah, sialan?! Baru sebentar mata ini bisa tertutup, mendadak kembali terbuka karena terjangan adrenalin yang mendadak membasahi tubuhku. Ini aneh. Aku akhirnya memutuskan untuk ke perpustakaan. Itu lebih baik, daripada aku hanya tidur-tiduran tanpa membuahkan hasil. Lagipula seingatku ada beberapa surat dari Earl Fransiscus dan Viscount Duerre yang belum ku balas. Jadi, dengan santai akupun menuju perpustakaan, yang terbilang cukup jauh dari kamarku. Yah, kamarku berada di tengah rumah, dan perpustakaan itu ada di sayap barat. Tapi tak apalah. Tak ada salahnya juga berjalan memutar. Lagipula aku suka dengan taman yang ada di seputar rumah ini. Dan aku selalu bisa melihatnya dari jendela-jendela besar yang ada di tiap ruangan yang ku lalui. Sepanjang perjalanan ku, aku hanya bisa mendengar suara sepatu larsku yang mengetuk-ngetuk marmer. Kemana kah semua orang? Apakah mereka sedang terlelap dibuai mimpi? Sungguh beruntung kalau begitu. Beberapa pelayan terlihat olehku sedang berbenah, dan yang lainnya lagi sedang menggosip. Tentunya, itu para wanita.
Akhirnya aku sampai di perpustakaan ini. Salah satu ruangan yang membuatku ingin membeli rumah ini. Pintu nya terbuat dari jati, dengan ukiran indah dan gagang kuningan yang menawan. Akupun menarik gagang itu, dan serta merta pintu terbuka di iringi bunyi ‘krek’ pelan. Ruangan ini masih sama. Sama dengan saat terakhir kali aku berada disini, tadi malam. Maksudku, pelayan bahkan tak berani masuk kesini dan membereskannya. Aku bisa melihatnya dari botol tinta dan kertas masih berserakkan di meja kerjaku. Aku lalu meraih sesuatu dari lemari. Yang bila kau lihat sekilas akan tampak seperti buku, ataupun ensiklopedia. Tapi bila kau perhatikan dengan seksama, kau akan tahu itu adalah kotak surat. Tempatku biasa menyimpan surat yang penting atau surat yang belum ku balas. Kotak itu sebenarnya punya ayahku. Tapi ia memberikannya padaku sebagai hadiah ulang tahun 2 tahun yang lalu. Ah, sudahlah. Aku kurang suka akan ingatanku 2 tahun yang lalu.
Aku baru saja mencelup ujung pena ku saat tiba-tiba ada yang membuka pintu itu dan seraut wajah muncul disitu…

LUCA’S LOCATION
Haah. Beralaskan tanah dan beratapkan langit. Hei, para gadis yang memujaku, catat alamatku itu baik-baik. Dasar penjilat.
Eh, wow. Jangan menyorotku dulu. Aku belum siap. Tunggu sebentar.
Ehm, oke, aku siap sekarang.
Langit begitu biru di sore ini. Desir angin pun membelai wajahku dengan lembut, mengingatkanku dengan sentuhan lembut ibuku saat aku berumur 9 tahun. Haah, aku jadi rindu dengan diriku saat itu. Diriku yang masih polos, bahkan terlalu polos untuk mengetahui apa yang terjadi saat ibuku bersimbah darah di hadapanku sendiri.
Ah, lupakan itu. Well – kurasa aku belum memperkenalkan diri. Namaku Luca Blidge. Panggil saja aku begitu. Atau kau mau menggunakan panggilan orang-orang sekitar terhadapku? Black fox. Keren bukan?
Aku hanyalah seorang pemuda miskin yang freelance, alias melakukan pekerjaan apapun untuk sesuap nasi. Apapun. Mulai dari yang mudah, hingga sulit. Atau yang akan membuat pakaianku tersimbur darah. Tapi itu tak apa. Yang penting perutku kenyang. Aku sedang asyik-asyiknya menatap langit dari atas pohon apel ini – juga sambil mengunyah buahnya, saat tiba-tiba aku mendengar bunyi langkah gusar dari bawah. Aku tersenyum. “Target empuk nih..”


Luke berjalan melalui lorong-lorong dirumah besar itu. Dia berjalan sampai sadar bahwa ada lilitan balut di balik kemejanya.
"Huh? Pantas pakaianku jadi terasa lebih tebal," pikir Luke.
Dia berjalan memperhatikan pelayan-pelayan mondar-mandir. Ketika dekat dengan ruang tengah, dia melihat sepupunya keluar dari kamarnya.
"Will!" pikir Luke. Sesaat dia mau menegur Will, seseorang menghantamnya dari belakang, tepat ke bekas lukanya. Luke kesakitan, namun tidak dapat berteriak karena terlalu terkejut dengan hantaman itu.
"Eh.. Maaf,"
Luke berbalik, ternyata salah satu dari pelayan Will tidak sengaja menghantamnya. "Maafkan saya, maaf atas kecerobohan saya berjalan sambil melihat kebawah," kata pelayannya, cemas.
"Tidak apa-apa," sahut Luke.
"Terima kasih, mr. Luke," kata pelayan itu, lalu kembali berjalan kearah kemana Will tadi berjalan. "Kemana Will tadi?" tanya Luke dalam hati, karena kehilangan jejak Will. Dia lalu berjalan kearah dimana dia terakhir melihat Will. Luke berjalan ke arah sayap barat.
"Terlalu banyak ruang, bagaimana aku tahu dimana Will?" pikir Luke.
Pelayan-pelayan banyak lewat disana. Luke bertanya pada salah satu pelayan, "Apa anda melihat dimana Will?" tanya Luke.
"Rasanya tadi tuan Will ke arah sayap barat, disana," kata pelayan tersebut menunjuk lurus ke arah lorong. "Terima kasih," kata Luke, lalu berlari sehingga tidak mendengar sahutan dari pelayan tadi. Dia melalui ruang yang terlihat taman dari jendelanya. Luke memperhatikan taman itu dari balik jendela.
"Wow..," kata Luke. Terdiam di sana mengamati taman itu.
"Sayang dirumah yang ada hanya halaman luas, tapi bukan taman," pikir Luke. "Hmm... Tapi aku lupa Ayahanda menyebut halaman itu apa," pikir Luke. Tiba-tiba dia jadi sangat rindu dengan ayahandanya, lalu memutuskan untuk menulis surat lagi.
"Aku ingin minta tinta dari Will..," kata Luke.
"Tadi Will tadi kemana, ya?" pikirnya.
Dia lalu berjalan kembali mencari Will sambil menanyakan kepada pelayan-pelayan diruang itu, namun mereka hanya menunjuk kemana arah Will pergi, tidak tahu persis ke ruang mana.
"Akan butuh waktu lama jika bukan Will sendiri yang mucul dihadapanku," pikir Luke.


------------------------ LARK DAN BENNETH ------------------------


"Kakak," tegur Benneth, mengikuti Lark dari belakang.
"Apa, Benneth?" sahut Lark.
"Kita kemana?" tanya Benneth.
"Kota Gold," sahut Lark.
"Apa kita tidak salah jalan? Tadi tulisannya kota Gold di sana..," tunju Benneth ke arah Timur, sedang mereka sedang berjalan ke arah Barat.
"Yah... Sesuai feeling sajalah," kata Lark.
"Benneth, kau berjalan disampingku. Kalau kau diserang dari belakang nanti bagaimana?" kata Lark.
"Iya, kak," kata Benneth, lalu berjalan disamping Lark. Lark melingkarkan tangan kanannya ke Benneth, lalu mendekatkannya dibadannya dan disandarkannya kepala Benneth di pundaknya sambil berjalan.
"Hanya kau lah keluargaku satu-satunya. Aku harus menjagamu," kata Lark. Benneth hanya mengangguk. Mereka berjalan melewati pohon-pohon di jalan.
Ditengah jalan, Benneth berkata, "Luck Salamander adalah kakakku. Kakak angkat yang kutemukan di sungai,"
"Yah..," sahut Lark, alias Luck.
"Kakakku anak ilung," canda Benneth.
Luck tertawa, lalu menacak-acak rambut pirang adiknya dengan tangan kirinya.
"Kau pikir nama Luck karena kau menemukanku? Bukan, karena aku selamat dari derasnya arus sungai!"
"Hehe..," tawa Benneth.
Benneth lalu berhenti bersandar di pundak kakaknya. Luck merangkul tangan kanannya pada Benneth.
"Tadi kau menopang di pundakku. Sekarang kau yang menopangku!" kata Luck.
"Berraaatt!" sahut Benneth.
"Haha...," tawa Luck.
Mereka akhirnya memutuskan untuk istirahat di bawah pohon..




---------------------------- RUBY TOWN -----------------------




Mereka masuk ke penginapan. Pemilik penginapan terlihat terkejut melihat mereka. "Kau mirip dengan pelangganku sebelumnya," katanya menunjuk ke Ursula.
"Siapa? Jangan-jangan mommy," kata Urke tanggap.
"Seperti apa ciri-cirinya?" tanya Ursula.
"Rambutnya blonde. Tapi matanya hijau," kata pemilik penginapan itu.
"Mommy..," sahut Urke, "Benar-benar mommy,"
"Kemana dia perginya?" tanya Ursula.
"Aku tidak tahu, dia pergi tanpa bicara apa-apa," sahut pemilik penginapan.
"Kapan terakhir dia kesini?" tanya Urke.
"Baru 2 hari yang lalu," jawab pemilik penginapan.
"Ayo kita kejar!" sahut Ursula.
"Sebentar... Vivienne terlihat kelelahan,"
"Urke, angkat Vivienne sampai ke kota sebelah!" kata Ursula.
"Kita tidak jadi bermalam disini?" tanya Urke.
"Maaf, kami tidak jadi bermalam disini," kata Ursula pada pemilik penginapan.
"Oh.. Tidak apa-apa. Masih ada yang lain, kok," kata pemilik penginapan itu.
"Ursula, ku sarankan kita menginap saja dulu. Butuh 4-5 hari ke kota selanjutnya...," kata Urke.
"Kau benar. Tapi kita bisa istirahat di jalan dengan beberapa bekal makanankan?" saran Ursula.
"Ok, baiklah.. Jika maumu begitu," kata Urke. "Ursula.. Kau tidak emosian'kan?"
"Sepertinya tidak," sahut Ursula.
"Aku hanya tidak sabar..,"


-Phullman
"Permisi. Daritadi aku mengetuk pintumu, tapi nggak ada jawaban sama sekali. Jadi aku masuk saja"ucap seraut wajah di balik pintu itu. Aku hanya mendengus, kemudian menyunggingkan senyum dan kembali menulis. "Menurutku kalau di lihat dari luka yang kau derita, kau baru akan sadar 2-3 hari lagi. Ternyata kau bahkan tidak membutuhkan 1 hari untuk itu,"
"Kuanggap itu pujian,"gadis berambut pirang itu lalu berjalan masuk dan menghampiriku. "Jadi tuan, aku mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas pertolonganmu. Nah, karena sekarang aku sudah sehat, jadi aku ingin permisi. Dan, oh ya, bisa aku minta kembali pisauku? Aku yakin kau yang mengamankannya,"
"Tentu saja aku yang mengamankannya. Tidak ada seorangpun yang boleh membawa senjata disini. Apalagi Lady sepertimu. Dan lagi, aku masih belum bisa membiarkanmu pergi sebelum aku benar-benar bisa memastikan lukamu sudah sembuh"
Dengan cepat gadis itu memberengut. Wajahnya mengingatkanku dengan wajah Annabeth saat aku tidak setuju dengan idenya mendekorasi rumah ini dengan warna ungu. "Oh, ayolah.. Aku sudah sembuh! Kau lihat? Aku bisa berjalan dari ujung lorong hingga kesini! Aku bahkan bisa mengikutimu secara diam-diam tanpa kau sadari!"
Alisku berkerut, "Mengikuti?"
"Ma-maksudku, mengikutimu dari ujung lorong sampai ke perpustakaan ini! Ayolah, tolong kembalikan dan biarkan aku pergi!"
"Hem..bagaimana kalau kubilang tidak? Dengar Nona, aku adalah Duke disini, dan aku adalah orang yang berkuasa disini"jawabku dengan nada di tekankan pada kata 'berkuasa'. Akhirnya si keras kepala itu menghentakkan kakinya dan berbalik menuju pintu. "Hei, nona. Siapa namamu?"tanyaku lagi.
"Kalau kau benar-benar mengambil dan mengamati pisauku, kau akan tahu hal itu"ia lalu keluar dan menutup-hem, membanting pintu dengan kasar. "Tentu saja aku tahu, Nona Clarisse.."bisikku kemudian.

---
Clarisse Pov

'Haaah?! Cowok macam apa dia! Orang-orangku dulu saja tidak pernah melawan perintahku! Dia? Heerrrggh! Baru Duke saja sudah belagu apalagi kalau dia jadi raja!'omelku dalam hati.
Terus terang, aku benci pada Duke congkak tadi. Aku lalu memutuskan untuk kembali ke ruangan-kamar-ku saja untuk istirahat, hingga saat aku melewati tangga, aku melihat sesosok pemuda yang terlihat kebingungan. Well- karena aku baik, aku menegurnya "Sedang mencari sesuatu?"
......
-Blidge
Aku menoleh ke bawah, dan mendapati ada 2 orang sedang beristirahat disitu. Seorang cowok yang kelihatan ling-lung dan seorang cewek yang ehm- apa yah?
Aku tidak bisa mendeskripsikan.
Ok, ku vonis saja kalau mereka sedang pacaran disitu. Wah, asyik sekali menganggu orang pacaran.
Akhirnya, akupun mengambil seekor ulat daun, yang paling hijau, besar, dan menjijikan, dan melemparnya tepat di atas kepala sang gadis, dan menunggu apa reaksi mereka..


--------------------- Dirumah Will-------------

Luke mendongak mendengar suara seorang perempuan. Dia terkejut mendapati perempuan manis yang dia-tahu-bukan-saudara-Will. Luke tersenyum lucu, berpikir kalau Will sudah memiliki kekasih. "Hmm..,"
Perempuan itu terlihat bingung dengan respon Luke. "Maafkan saya. Saya sedang mencari tuan Will. Apakah nona melihatnya?" tanya Luke. Dia rada-rada aneh mengucapkan Will diselingi dengan kata 'tuan', karena menurutnya Will sudah dianggapnya saudaranya sendiri. Mengingat Luke anak tunggal, Luke menganggap Will kakaknya <karena Will sering menang latihan pedang darinya>. Perempuan itu lalu menjawab....


---------------------- Russel Portman -------------------

"Kakek!" Teriak Russel, didepan rumah Luke dan masih diatas kuda.
Seorang pembantu wanita keluar dari rumah.
"Oh, tuan muda Russel! Anda masih terlihat lucu seperti ketika anda berumur 6 tahun!" kata pembantu itu.
"Bibi... Russel sudah berumur 10 tahun lebih tua dari itu!" sahut Russel.
"Tuan muda pasti mencari tuan muda. Tuan muda mengabari Tuan Besar bahwa dia ada dirumah Tuan muda Will,"
"Siapa itu tuan muda Will?" tanya Russel mengerutkan keningnya.
"Tuan muda Russel harus memanggilnya paman!" tegur pembantu itu.
"Huh? Oh.. Jadi paman ke rumah paman Will? Siapa paman Will?" tanya Russel.
"Sepupu jauh tuan muda, marganya Phulllman," jawab pembantu.
"Apa paman Will sama mudanya dengan paman Luke?"
"Iya. Mereka seumur,"
Danny keluar dari rumahnya, melihat cucunya.
"Oh, Russel. Kau mau kerumah paman Will mencari paman Luke?" tanyanya.
"Iya, kek. Dimana rumahnya?" tanya Russel.
"Terus saja dari sini, lalu lewati hutan itu," jawab Danny. "Dan, Russel, bisakah kau memberikan surat ini kepada paman Luke?" tanya Danny.
"Ya, bisa , kek!" sahut Russel. Danny memberikan surat yang dipegangnya kepada pembantunya dan pembantunya memnerikannya ke Russel.
"Kek, Russel pergi dulu ya!" kata Russel.
"Ya, hati-hati ya!" sahut Danny.


----------------------------- Hutan Royal Town ---------------------------

Benneth menghela nafasnya. Lalu memperhatikan kakaknya yang sedang berwajah sedih.
"Apa yang kakak pikirkan?" tanya Benneth, ikut sedih melihat wajah Luck sedih.
"Aku... Memikirkan bagaimana rasanya tinggal dirumah.. Walaupun rumah itu sederhana..," jawab Luck. "Aku lelah berkelana di dunia ini.. Banyak kota-kota yang kita lewati.. Selama itu juga kita tidak diperhatikan oleh pemerintah-pemerintah kota-kota itu,"
"Aku bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi ketika bertemu denganmu.. Dan mimpi tentang keluarga itu... Seakan-akan begitu nyata" sambung Luck.
"Kakak...,"
"Kakak'kan sudah menjadi keluarga Benneth," kata Benneth.
"Ya, Benneth... Aku hanya ingin bingung... Mimpi itu menghantuiku, terakhir aku mimpi tentang ini 5 tahun yang lalu.. Sekarang mimpi itu kembali lagi," kata Luck.
"Mungkin itu benar-benar keluarga kak Luck....," sahut Benneth. Tidak lama, Benneth menangis.
"Benneth??" tanya Luck, terkejut melihat adiknya menangis.
"Apa Benneth bukan adik yang baik? Apa kakak mau meninggalkan Benneth dan mencari keluarga kakak??" tanya Benneth balik, lalu air matanya semakin banyak.
Luck sadar dengan kata-kata Benneth. Dia sadar bahwa kata-katanya barusan melukai hati Benneth. Dia lalu memeluk adiknya itu.
"Tidak, kau sudah menjadi adik yang baik, Benneth...,". "Apa kau tidak mengingikan orangtua?"
Benneth menghentikan tangisannya. Lalu menengadahkan kepalanya keatas, menatap Luck.
"Benneth... Anak buangan.. Orangtua Benneth meninggalkan Benneth di samping sungai.. Sungai dimana Benneth pertama kali menemukan kakak," katanya. Luck terkejut mendengar cerita Benneth. Dia menyadari bahwa tidak hanya dia saja yang mengeluh tentang keluarga, tapi dia tidak pernah mendengar adiknya mengeluh.
"Benneth... Maafkan kakak," kata Luck.
"Benneth pikir kakak adalah anak orang yang kaya," kata Benneth.
"Kenapa benneth berpikir begitu?" tanya Luck.
"Kakak... Bisa membaca huruf ketika baru Benneth kenal. Bahkan berpengetahuan daripada anak gelandangan biasanya..," jawab Benneth.
"Entah juga, mungkin aku dulu anak penjaga perpustakaan?" kata Luck.
"Anak bangsawan mungkin, kakak punya mata yang indah. Bola mata kakak warnanya biru malam..," kata Benneth.
"Apa hubungannya?" tanya Luck bingung.
"Bangsawan biasanya wajahnya bagus... Mereka punya uang banyak, jadi orang menawan yang manapun mau juga dengan mereka meski jelek!" jawab Benneth yang jujur.
"Haha..," Luck tertawa kecil.
Tiba-tiba dia terkejut.
"Benneth.... Kau tidak merasa?" tanya Luck.
"Apa?" sahut Benneth.
"Diam ya...," kata Luck. Luck mengambil sasuatu dari kepala Benneth. Dan tepat ketika Benneth melihat 'sesuatu' yang diambil kakaknya itu, dia langsung pingsan.
"Benneth??"
Back to top Go down
View user profile http://monasiakingdom.4umer.com
Sponsored content




PostSubject: Re: ROLE-PLAY (THE STORIES)   Today at 9:17 pm

Back to top Go down
 
ROLE-PLAY (THE STORIES)
View previous topic View next topic Back to top 
Page 1 of 1
 Similar topics
-
» Role Play Game
» LF role-players in Khaz Modan, Highlands, Gilneas, Lordaeron etc
» Artemis' Newest Huntress
» Statistical (slightly) Pokemon Role Play
» Table seating arrangements...Issue or not?

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Pieroot Family Manors :: Entertaint Room-
Jump to: